Menjadi Petani itu Belum terlambat - Tananua Flores

Breaking

Home Top Ad


Post Top Ad





Selasa, 24 September 2019

Menjadi Petani itu Belum terlambat


Emanuel Mari (Petani dari desa Numba Drop out Perantauan)

Ende- tananuaflores.id. Profesi petani merupakan profesi yang mulia karena petani mampu merawat bumi dan memberi makan bagi semua manusia di  bumi ini. Petani merupakan tokoh penting memainkan peran dalam mengelola bumi melalui sector pertanian, karena berhubungan langsung dengan tampat kehidupan ini. 

Hasil-hasil yang berasal dari kebun para petani merupakan sumber kebutuhan pokok atau utama dalam membangun keberlanjutan hidup manusia dalam berelasi dengan alam dan penciptanya.

Kebanyakan orang berpandangan menjadi petani  merupakan sebuah profesi yang kotor, tidak menguntungkan, tidak seksi, tidak bermartabat untuk digeluti. Cara pandang ini membuat kebanyakan generasi muda tidak tertarik dengan profesi yang satu ini termasuk bapak Eman Mari.

Bapak Emanuel Mari (39) seorang warga dari desa Numba kecamatan Wewaria, mengisahkan kehidupannya sampai beliau memilih pulang kampung Hal ini diceritakannya kepada Heribertus Se (pendamping lapangan). 

Awalnya merasa sangat sulit hidup dikampung dengan mengikuti jejak orang tua sebagai petani, harus kerja kebun, turun naik gunung didukung dengan prasarana transportasi yang tidak memadai serta harga pasaran komoditi pertanian yang tidak menentu, maka pada tahun 2005 beliau memilih merantau ke malaysia tanpa paspor, setahun bekerja di Malaysia  setelah ditangkap dan di deportasi kembali ke Indonesia. Akirnya beliau memilih pulang kampong. Selama di tanah rantau beliau mengumpulkan uang sebesar Rp.6.000.000,- yang kalau dibagi ke 12 bulan maka perolehan perbulan Rp.500.000,-

Menurut beliau pengalaman merantau tanpa dokumen (pasport) terasa sangat pahit apalagi pulang dengan menggunakan jasa deportasi alias dibuang atau dikembalikan ke negara asalnya secara paksa. 

Maka setelah tiba dikampung dengan perasaan malu beliau bergabung dalam kelompok tani Sa Ate 1 dan memilih bekerja sebagai petani dengan mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua Flores. Dalam pendampingan petani pendamping lapangan Yayasan Tananua Flores (Heribertus Se) berbagi kisah-kisah sukses dari beberapa petani dampingan terdahulu dalam merawat kebun yang baik.

Setelah bergabung dengan kelompok tani Eman bersama anggota kelompok mulai berdiskusi untuk menentukan komoditi yang akan dikembangkan dan setelah dianalisis bersama berdasarkan kesesuaian lahan dan harga pasaran selain komoditi kemiri yang sudah menjadi komoditi primadona desa Numba maka dipililah 2 komoditi yang dirasa tepat yakni kopi dan kakao.
 
Kebun Model, Penyanggah Keluarga

Selain berceritera bapak Eman bersama isterinya juga mengundang pendamping untuk mengunjungi kantor alias kebunnya yang berjarak kurang lebih 1.500 meter dari perkampungan dengan menyusuri lembah dan bukit. Memenuhi undangan bapak Eman, memasuki kebun bapak eman agak kaget karena cukup banyak isi kebun yang belum ditata dengan pola tanam yang baik. 

Aneka tanaman yang dijumpai seperti  kakao, kopi, kemiri, marica, pinang, fanili, Lombok dan talas. Tapi yang menjadi dominan adalah kopi dan kakao.
 
Setelah mengitari kebun, bapak Eman bersama istri mengajak pendamping untuk istirahat di pondok. Dalam istirahat tiba-tiba bapak Eman bertanya kepada pendamping. “Menurut ame (Bapak) saya harus bagaimana dengan kebun ini?,” tanyanya.

Dengan senyum pendamping bertanya balik, apa yang bapak Eman mau dengan kebun ini? Jawab Eman saya ingi kebun ini menjadi sumber ekonomi keluarga saya. 

Pendamping melanjutkan dengan pertanyaan apa dari banyak jenis tanaman yang ditanam dilahan ini belum memberikan cukup pendapatan? Bapak Eman mengatakan masih sangat kecil dan belum dapat memenuhi kebutuhan keluarga karena pohon banyak tapi karena pengetahuan saya yang terbatas akan tanaman yang saya tanam sehingga dikebun ada banyak jenis tanaman dan lebih banyak daun dari pada buah. 



Pendamping lalu menyampaikan kalau bapak mau panen buahnya yang berkwalitas dalam jumlah banyak maka kebun ini harus dirubah atau ditata lagi dan saya sebagai pendamping bersedia mendampingi hingga mendapatkan hasil atau panen yang banyak. 


Semua tergantung bapak Eman dan isteri karena ini harus bermula dari kemaun dan mulai kerjakan dengan sungguh-sungguh. Semangat kerja dan keseringan kunjungan kebun menjadi kunci utama. Kita akan merubah kebun ini menjadi kebun impian keluarga dan tempat wisata serta tempat penyelesaian masalah dalam keluarga.

Bapak Eman pun setuju. Dirinya juga berkomitmen untuk menjadikan kebunnya sebagai kebun model dan uji terap teknologi pertanian organik yang ramah lingkungan.

Rawat kebun

Dari diskusi pondok melahirkan sebuah kesadar untuk berubah yang sangat kuat dari Eman bersama istrinya. Hal ini dikuatkan dengan pendampingan yang terus menerus oleh Yayasan Tananua Flores. 

Dimana keluarga ini mulai menata kebunnya secara besar-besaran, mulai dari menebang, memangkas, penyedian benih, persiapan lubang, persiapan pupuk, penanaman anakan, serta perawatan dengan teknologi-teknologi yang sudah dilatih baik dilakukan secara sendiri ataupun bersama dalam wadah kelompok. Tekonologi yang dipraktekan seperti pemangkasan, pemupukan, panen sering, sanitasi, pengendalian hama dan penyakit. Juga teknologi lainnya yang dicoba sacara rutin. 

“Hasil panen tahun 2017 dari komoditi kakao dan kopi meningkat. Saya mendapatkan hasil 517 Kg bersih dari 83 pohon kakao produktif dengan nominalnya kurang lebih Rp. 12,92 juta,” ungkapnya.
Uang yang diperoleh dipergunakan Eman untuk memperbaiki rumah. Dirinyapun  sangat bangga dengan hasil ini

Menerobos pasar kakao dengan inovasi

Setelah kakao berproduksi bapak Eman bersama kelompok melakukan analisa bersama pendamping, untuk apa ya biji kakao yang petani produk? Dari beberapa sumber yang didapat ternyata biji kakao ini akan dijadikan bahan makanan atau minuman coklat.

 Kelompok mulai bertanya apa petani bisa membuatnya? Ada anggota yang menyatakan wah bisalah kita coba dulu namun ada yang lain katakan tidak bisa karena kita tidak memiliki peralatan baik mesih dan yang lainnya.

Namun bapak Eman bersama bapak Domi secara perlahan mereka mulai mencaoba dengan menggunakan peralatan sederhana yang mereka miliki seperti kuali tanah, lesung, niru dan yang lainnya. 

Hasil gorengan dan tumbukan dicoba untuk minum ditingkat kelompok dan anak-anak serta  dipamerkan pada pertemuan smesteral petani di desa Hangalande, Mukureku dan Rutujeja. Awalnya bubuk kakao agak kasar, perjalanan dari waktu kewaktu kelompok mulai menemukan proses pembuatan bubuk kakao yang halus dan dikemas dalam kemasan yang bagus dan diberi merek “NUMBA CACAO”. 

Bubuk coklat Numba Cacao dalam kemasan 125 gram dijual Rp.25.000,- Dan untuk mendapatkan 1.000 gram bubuk coklat membutuhkan 1.500 gram biji coklat. Dengan harga beli 1,5 kg biji kakao Rp.45.000,- dan harga jual 1 kg bubuk coklat Rp.200.000,- Hal ini bisa dilihat keuntungan kotor sebesar Rp.155.000,-

Inilah yang disebut dengan inovasi petani dalam menerobos pasar, dari inovasi yang ada ini Eman dan kelompoknya diajak untuk memberikan shering ditingkat kabupaten untuk kegiatan forum inovasi desa

Berbagi Informasi

Hasil panen meningkat, membuatnya menjadi bahan ceritera warga setempat. Ada warga tani secara sembunyi-sembunyi masuk ke kebunnya untuk melihat apa yang dikerjakan jika dirinya tidak ada di kebun.

Rasa keingintahuan dari warga tani ini membuat Eman mulai memikirkan bagaimana caranya untuk berbagi informasi dan cerita sukses bertani kakao dan kopi dengan pendekatan pertanian yang selaras alami.
Dari semangat untuk berbagi ini,kesempatan itu datang ketika pemerintah desa menanggapi keberhasilannya dengan membuat forum Koptan ditingkat desa Numba.

“Saya diundang pemerintah desa sebagai pemberi informasi, berceritera tentang keberhasilan saya,” ungkapnya.
Atas dasar apresiasi dan dukungan pemerintah, kelompok tani Sa Ate Satu diberi penghargaan. Bantuan Saprodi, kunjungan belajar serta anakan kakao unggul diberi pemerintah setempat.

Sampai saat ini semua kelompok tani dan semua warga desa mulai mengembangkan komoditi kopi dan kakao secara masal. Kelompok Sa Ate Satu dan bapak Eman selalu diundang ke kebun kebun warga untuk melatih dan melakukan praktek bersama petani lain. Dan pula petani dari 13 desa dampingan Yayasan Tananua Flores pun melakukan kunjungan belajar ke kelompok Sa Ate 1 Numba.

Sebagai kader pertanian, kelompok tani Sa Ate Satu dan bapak  Eman mendapatkan emas hijau untuk saling menghidupkan. Semuanya didapat melalui komoditi kakao dan kopi.

Petani hebat, kebun terrawat, lingkungan lestari. Merawat bumi memelihara kehidupan dan selamanya tobat untuk merantau.

Selamat ya bapak Eman dan kelompok Sa Ate 1 jadilah pewarta kehidupan berkelanjutan komunitas dari sector pertanian. (Penulis: Hs, Editor: Hp)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad