INOVASI DARI DESA KE DESA - Tananua Flores

Breaking

Home Top Ad


Post Top Ad





Selasa, 23 Juli 2019

INOVASI DARI DESA KE DESA

Dok.Tananua Flores

Ende-Tananua Flores. Kemajuan jaman mendorong semua manusia termasuk para petani harus kreatif dalam menghasilkan produk-produknya sehingga dapat diterima oleh konsumen dan mendapat harga yang lebih baik. Apabila  manusia yang termasuk petani hanya menghandalkan sumber daya alamiah dan memasarkannya dalam bentuk gelondongan, maka hanya menjadi kuda tunggangan bagi manusia yang kreatif. Bekerja sudah susah payah dalam memproduksi hasilnya kebunnya dapat uang kecil sedangkan mereka yang kreatif dalam mengolah lanjut produk pertanian akan mendapat uang lebih bagus.

Yayasan Tananua Flores memfasilitasi petani untuk mengkreasikan produk pertaniannya, dimana diolah menjadi bahan setengah jadi atau bahan siap saji. Dalam pertemuan smesteral petani dampingan yang dilakukan di desa Rutujeja kecamatan Lepembusu Kelisoke kabupaten Ende, pada tanggal 10-13 Juli 2019, petani juga membawa karya inovatif dari masing-masing desa yang menjadi salah satu kebanggaan desa dan dipamerkan pada pertemuan tersebut. Adapun beberapa karya inovatif yang dipajangkan sebagai berikut:

 1.  Bubuk Kakao karya kelompok Muri Numba dari desa Numba kecamatan Wewaria, Bubuk kakao yang dibuat dari biji kakao bermutu milik petani anggota kelompok Muri Numba yang diolah melalui vermentasi dan pembubukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan dikemas dalam bungkusan yang lebih modern. Bubuk kakao muri numba bisa dipakai untuk bahan adonan kue dan dikonsumsi melalui minuman dicampur bersama susu.

2. Minyak Kemiri Muri Numba; karya kelompok Muri Numba dari desa Numba kecamatan Wewaria, minyak kemiri yang dibuat dari biji kemiri  pilihan milik petani anggota kelompok Muri Numba yang diolah melalui  dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan dikemas lebih modern. Minyak kemiri muri numba bisa dipakai untuk minyak urut dan juga sebagai minyak rambut.


3. Bubuk Kopi Robusta BUMDES Mbele Raja
Bubuk kopi robusta  dari biji kopi pilihan dari petani dan kelompok tani di desa Golulada kecamatan Detusoko kabupaten Ende. Biji kopi diolah melalui mesin roasting dan mesin penepungan ole BUMDEs Mbeleraja desa Golulada dan dikemas secara modern dan siap diseduh langsung pada air hangat bagi para penikmat kopi.

4. Kerajinan Batok Kelapa dari desa Ndondo.
Batok atau tempurung kelapa yang selama ini tak digunakan atau dibuang para petani, Orang-orang muda didesa Ndondo kecamatan Kotabaru mengemasnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Adapun hasil kemasannya menjadi asbak rokok, celengan, teko dan yang lainnya. Hasilnya sangat bagus.

5. Geraba dari Wolotolo Tengah
Peralatan dapur dari tanah dewasa ini sangat langkah menghuni dapur-dapur keluarga pedesaan. Ibu-ibu dari Wolotolo Tengah kecamatan Detusoko masih tetap mempertahankan ketrampilan dalam pembuatan peralatan dapur walaupun mereka tahu kalah bersaing dipasaran, namun tetap ada juga pembelinya.

 6. Kerajinan Anyaman dari Detumbewa
Kelompok ibu-ibu dari desa Detumbewa kecamatan Detukeli berkreatif menganyam dari bahan daun lontar untuk tas maupun untuk simpan sirih pinang. Ketrampilan menganyam ini juga mulai langkah sejak 2 tahun terakhir Yayasan Tananua Flores mendorong agar ketrampilan yang ada tetap dipertahankan dan diajarkan kepada anak-anak muda.

7. Kerajinan anyaman dari desa Randoria
Hal yang sama seperti desa detumbewa juga dilakukan oleh para ibu dari desa Randoria kecamatan Detusoko.


Mukureku Saate kecamatan Lepembusu Kelisoke merupakan salah satu desa penghasil kopi arabika dengan cita rasa terbaik. Selain dijual secara gelondongan kelompok juga mulai membuat dalam bentuk bubuk kopi yang dikemas secara bagus dengan menggunakan bahan lokal yakni bambu.






9. Gelang daun pandan dari kelompok ibu desa Rutujeja
Pandan adalah tanaman lokal setempat yang selama ini digunakan sebagai bahan dasar tikar, seiring dengan beralihnya tikar pandan ke tikar plastik maka daun pandan mulai ditinggalkan. Ibu-ibu dari kelompok Iwa Tolo desa Rutujeja mulai mengkreasi menganyam gelang, yang juga sangat indah saat dikenakan.



Direktur Yayasan Tananua Flores, Hironimus Pala mengapresiasi buat seluruh kelompok yang sudah berinovasi, harapannya terus meningkatkan kwalitas bagi yang sudah berinovasi, desa-desa yang belum mulai agar mulai memanfaatkan potensi desa dan mulai berkreatifitas. Analisa secara baik dan mulai berpikir dari awal untuk inovasi yang berkelanjutan. (hp).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad