Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Design created with PosterMyWall

Harapan Baru, Spirit Baru: Menapaki 2026 Bersama Masyarakat

Awal tahun 2026 tidak kami awali dengan gegap gempita, melainkan dengan sebuah pertemuan sederhana yang mengundang kami untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan memandang ke depan dengan lebih jujur. Para staf Program Livelihood Sustainable Yayasan Tananua Flores berkumpul bukan terutama untuk menyusun daftar kegiatan, tetapi untuk bertanya kembali pada diri sendiri: mengapa kami hadir di desa, dan untuk siapa kerja ini dijalankan?

Tema “Harapan Baru dan Spirit Baru” lahir dari kesadaran bahwa pendampingan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Di dalamnya ada relasi, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap berpihak kepada masyarakat desa, bahkan ketika hasil kerja tidak selalu segera terlihat. Refleksi ini menjadi ruang untuk memperbaharui komitmen—bukan hanya sebagai staf program, tetapi sebagai manusia yang hidup dan bertumbuh bersama komunitas dampingan.

Perubahan konteks dan tuntutan kerja mengajak kami untuk semakin dewasa dalam memaknai pendampingan. Surat dari MISEREOR menjadi cermin yang jujur: kerja-kerja baik yang dilakukan harus mampu dibuktikan, dibaca, dan dirasakan dampaknya. Pendampingan tidak cukup berhenti pada aktivitas, tetapi harus menjelma menjadi perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat—pangan keluarga yang lebih tersedia, lingkungan yang lebih terjaga, serta ekonomi rumah tangga yang semakin kuat.

Kesadaran ini menuntun kami untuk kembali pada kekuatan utama Tananua Flores: LIVE IN. Tinggal bersama masyarakat bukan metode tambahan, melainkan jantung dari pendampingan. Di desa, kami belajar bahwa kehadiran tidak bisa diwakilkan oleh laporan atau foto kegiatan. Kehadiran dibangun dari waktu yang dibagi, dari duduk bersama di dapur, dari mendengar cerita keseharian, dan dari kesediaan untuk ikut merasakan denyut hidup masyarakat.

Pengalaman para staf yang berbagi kisah Live In membuka ruang pembelajaran bersama. Ada yang menemukan makna kehadiran di antara aktivitas adat dan kerja kebun, ada yang merasakan tumbuhnya kepercayaan melalui relasi kekeluargaan, dan ada pula yang dengan jujur mengakui tantangan—kelompok yang melemah, relasi yang belum terbangun, dan kebutuhan akan dukungan internal organisasi. Semua cerita itu bertemu dalam satu kesadaran: pendampingan adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus belajar.

Di balik setiap cerita, tersimpan mimpi-mimpi yang sederhana namun kuat. Desa dengan kebun pangan yang hidup, kelompok yang aktif dan mandiri, relawan komunitas yang bertumbuh, Perdes yang melindungi sumber daya, serta keluarga-keluarga yang semakin percaya pada kekuatan pangan lokal. Mimpi-mimpi ini bukan angan kosong, melainkan arah yang ditumbuhkan perlahan melalui kehadiran yang setia.

Tahun 2026 juga kami sadari sebagai masa persiapan dan pematangan. Proposal baru yang akan disusun bukan sekadar dokumen administratif, tetapi cermin dari praktik pendampingan di lapangan. Data, baseline, dan endline menjadi penting bukan untuk memenuhi kewajiban, melainkan untuk memastikan bahwa kerja kami benar-benar berakar pada realitas masyarakat dan bergerak menuju perubahan yang nyata.

Esai reflektif ini menjadi pengingat bagi kami bahwa kerja pendampingan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan keluarga kami, dengan komunitas tempat kami tinggal, dan dengan nilai-nilai yang kami pegang bersama sebagai Yayasan Tananua Flores. Dalam keterbatasan dan tantangan yang ada, kami memilih untuk terus melangkah—dengan harapan baru dan spirit baru.

Menapaki 2026, kami memperbaharui janji untuk tetap hadir, untuk bekerja dengan lebih jujur dan bermakna, serta untuk terus berjalan bersama masyarakat desa. Kami percaya, perubahan sejati tidak lahir dari kecepatan atau besarnya program, tetapi dari kesetiaan untuk tinggal, menyatu, dan bertumbuh bersama. 

Oleh : Staf Livelihood

Posting Komentar

0 Komentar